Paiton, 07 April 2026_Empat mahasiswa Universitas Nurul Jadid (UNUJA) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di wilayah ujung timur Pulau Sulawesi, tepatnya di Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi. Mereka ditempatkan di Pondok Pesantren Nurul Furqon yang diasuh oleh Kiai Sumail, yang juga menjabat sebagai Ketua PCNU Wakatobi.
Keempat mahasiswa tersebut adalah Sayyidah Aulia Ul Haqqu (Komunikasi dan Penyiaran Islam), Alfiani Nur Sakinah (Informatika), Ach Khairul Umam (Informatika), dan Khairil Makin Huda (Pendidikan Agama Islam). Mereka berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak pada 7 April dan tiba di Tomia Timur pada 12 April setelah menempuh perjalanan laut yang panjang.
Selama di lokasi, para mahasiswa akan melaksanakan program pengabdian sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing dalam rangka mendukung pengembangan pendidikan di pesantren. Kegiatan ini merupakan implementasi visi dan misi UNUJA sebagaimana arahan Rektor agar setiap program pengabdian harus memberikan dampak nyata, unggul, dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.
Kepala LP3M UNUJA, Fathor Rozi, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini penting sebagai pembelajaran di luar kampus melalui skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Mahasiswa tidak hanya mengabdi, tetapi juga melakukan penelitian sebagai bagian dari persiapan tugas akhir mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Kiai Sumail menyampaikan apresiasi kepada UNUJA yang telah menunjukkan kepedulian terhadap pesantren-pesantren kecil di daerah terpencil dengan mengirimkan mahasiswa terbaiknya untuk terlibat langsung dalam pengembangan pendidikan pesantren.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan mendampingi santri dalam penguatan literasi digital, pengelolaan administrasi pesantren berbasis teknologi, pengembangan media dakwah, serta peningkatan kualitas pembelajaran keagamaan. Pendekatan kolaboratif antara mahasiswa dan pengasuh pesantren diharapkan mampu menciptakan inovasi sederhana namun berdampak langsung bagi kebutuhan pesantren.
Kegiatan pengabdian ini juga menjadi wujud nyata sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam membangun pendidikan berbasis kebutuhan masyarakat. Diharapkan, pengalaman ini tidak hanya memberi manfaat bagi pesantren, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa yang adaptif, solutif, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap kondisi pendidikan di daerah terpencil.