Judul Pengabdian:

UPAYA PAGUYUBAN DALAM MEMBANGUN SEMANGAT GOTONGROYONG, MENINGKATKAN EDUKASI RELEGIUS DAN PARTISIPASI EKOLOGIS WARGA DI KAWASAN PANTAI MANDARAN DESA PESISI-BESUKI-SITUBONDO

Pengabdi:

HAMBALI - Pendidikan Agama Islam

Tahun:

2019

Lokasi:

Pesisir, Besuki Situbondo

Sumber Dana:

Internal PT

Abstraksi:

Indonesia masuk pada peringkat pertama dari 10 negara kepulauan yang ada di dunia, memiliki luas 1,904, 569 km2, presentase air sebesar 4,85 %, dengan jumlah pulau terbanyak sejumlah 17.508 pulau. 15 Maret 2015, AntaraNews meliris hasil data pantai terpanjang di dunia, Selain menjadi negara dengan pulau terbanyak, Indonesia juga memiliki pantai terpanjang kedua di dunia (setelah Kanada), dengan panjang 99,093 km. Tidak sedikit destinasi wisata pantai di Indonesia yang terkenal dan termasyhur baik bagi wisatawan lokal maupun asing, namun tidak sedikit pula pantai-pantai di pesisir Indonesia cenderung mengalami penurunan kualitas sehingga lingkungan pesisir di lokasi tersebut dapat berkurang fungsinya atau bahkan tidak dapat berfumgsi dengan baik untuk menunjang pembangunan dan peningkatan kesejahteraan hidup penduduk secara berkesinambungan. Penurunan kualitas lingkungan pesisir dibanyak tempat terjadi karena akibat pencemaran dan atau perusakan lingkungan di sekitarnya. Terjadinya pencemaran pantai banyak juga disebabkan oleh masukan polutan fisik seperti sampah plastik, pecahan botol dan besi ataupun polutan kimia yang berbentuk senyawa kimia baik senyawa sintetis maupun yang alami, yang karena konsentrasinya cukup tinggi sehingga dapat menimbulkan pencemaran, contoh gas CO1, CO2, logam pb(timbal), dan merkuri. Kondisi ini diperparah dengan adanya kerusakan lingkungan pantai seperti eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam lingkungan pesisir dan laut pada umumnya. Dengan gagasan participatory environmentalism berbasis mutual cooperation, masalah tersebut hendak dianalisis dan dipecahkan melalui program pemberdayaan masyarakat. Program tersebut menekankan pentingnya kebersamaan dalam membangun gotongroyong dan peningkatan pemahaman pentinganya pendidikan dan keagamaan di satu sisi, dan pentingnya partisipasi dari berbagai pihak, sinergi antara antara anggota paguyuban dengan masyarkat dan stakeholders agar sharing space dengan alam, merawat ekosistem laut dan udara di sisi yang lain. Yang diharapkan dari program tersebut adalah terciptanya ‘keseimbangan’ ekologis antara manusia dan alam, serta terbangunnya ‘sinergi’ antarmanusia (pihak paguyuban dan warga lingkungan mandaran) dalam menjaga kesehatan dan keindahan lingkungan mereka sendiri. Program tersebut dijalankan melalui beberapa langkah penting, seperti pembuatan grand plan, pencarian outsourcing mediasi, pelaksanaan knowledge management, capacity bulding, pembuatan policy brief, pencarian partner aksi, dan penanaman pohon waru dan mangrove. Masing-masing langkah memiliki program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang diharapkan bisa diselesaikan dalam durasi (kurang lebih) 4 bulan (Agsutus – November 2019). Keterlibatan dari berbagai pihak, misalnya dari para aktivis lingkungan pesantren, Pemkab, dan Serikat Nelayan, sangat menentukan sukses tidaknya program tersebut terealisasi di lapangan.

Review:

ok

Sidebar Menu