Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bersama Komunitas Seni ARANG Berbagi Lewat Pameran

Bremi (13/02/21)- Suasana sejuk pegunungan selatan Kabupaten Probolinggo, terasa saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke Desa Bermi, Kecamatan Krucil. Pagi itu nampak orang yang berlalu-lalang di jalan desa.

Sekitar sepekan lalu, kesibukan juga terlihat Damar Coffe, salah satu warung kopi yang ada di sana. Ada yang menggerakkan giginya lantaran menggigil, ada yang membuka bajunya dan memakai kaus dalam untuk lebih berasal kesegaran alam di sana. Di tempat inilah Komunitas Seni ARANG tengah menggelar pameran.

Sejumlah karya lukisan dipajang di sana. Lukisan ini memang diperjualbelikan. Uniknya, dan hasil dari penjualan akan didonasikan kepada salah satu panti asuhan yatim-piatu di Kecamatan Kraksaan.

Pameran ini digelar sejak Sabtu (13/2) lalu. Pameran yang masih berlangsung sepekan kedepan ini, dihadiri muda-mudi. Saat berkunjung ke sana, sejumlah pemuda yang sedang sibuk. Mereka sebagian besar adalah anggota dari Komunitas Seni ARANG.

Komunitas ini terdiri dari kumpulan seniman yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Probolinggo. Komunitas ini menggelar pameran untuk penggalangan dana yang nantinya akan didonasikan pada panti asuhan Yayasan Pelangi Sumber Lele, Kecamatan Kraksaan.

“Acaranya pameran sekaligus bakti sosial ini dilaksanakan dengan kerjsama antara Komunitas ARANG dengan Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif UNUJA yang berada dibawah naungan Lembaga Penerbitan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Rencananya hasil dari penjualan ini akan kami donasikan ke salah satu yayasan yang ada di Kecamatan Kraksaan,” sahut Mujiburahman, ketua Komunitas Seni ARANG.

Sementara Achmad Fawaid, M.A., M.A. Kepala LP3M menyampaikan bahwa UNUJA pada tahun ini sudah membentuk 6 Pusat Kajian, salah satunya Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pusat kajian ini akan melakukan pendataan dan analisis Pariwisata di tiga Kabupaten, Kabupaten Situbondo, Probolinggo dan Bondowoso, termasuk kegiatan ini merupakan rangkain kinerja dari Pusat Kajian tesebut.

Pagi itu suara riuh saat awal pembukaan pameran. Para anggota komunitas ini begitu bersemangat menyiapkan. Puluhan lukisan dengan berbagai judul, ke berbagai sudut ruangan itu terus dilakukan. Hingga matahari tepat berada di atas kepala, aktivitas pun mulai berganti. Ada yang melakukan mural lukisan, bercana tawa, dan menjadi promotor lukisan.

“Lukisan yang dipajang ini asli hasil karya anak daerah. Sebagian lukisannya sudah ada yang laku. Nantinya langsung dikumpulkan untuk kemudian pada pameran selesai, bisa langsung didonasikan,” ujar pria asal Desa Dandang, Kecamatan Gading tersebut.

Pagelaran ini diadakan oleh para seniman ini lantaran pada masa pandemi Covid-19 ini sangat mempengaruhi perekonomian. Tak terkecuali para seniman itu sendiri. “Masa pandemi ini kami juga sulit untuk berbagi dengan mereka (anak yatim, Red). Nah, melalui karya inilah kami ingin berbagi. Sehingga hasil dari penjualan ini akan diberikan kepada mereka yang berhak,” ujarnya.

Sejatinya, acara pameran seperti ini sudah sering dilakukan oleh komunitas seniman ini. Bahkan beberapa karya anggota Komunitas Seni ARANG, ada yang diikutkan di pameran luar daerah seperi Jogjakarta, Jakarta atau daerah lain di Jatim.

Namun berbeda dengan sebelumnya. Pameran di Bermi, Krucil ini, digelar saat pandemi. Tentu saja, di sela-sela lukisan yang dipajang di dalam maupun luar ruangan, nampak ada tempat cuci tangan beserta sabun yang diletakkan di pinggirnya. Selain itu, para pengunjung yang datang juga menggunakan masker.

“Wajib mematuhi protokol kesehatan bagi para pengunjung. Utamanya mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak. Harus diterapkan dalam pameran ini. Jangan sampai acara yang diniatkan untuk membatu sesama pada masa Pandemi Covid-19 ini, malah menjadi bumerang nantinya bagi kami jika ada pengunjung atau anggota yang terpapar virus korona,” ujar pria yang baru-baru ini melepas masa lajangnya pada akhir tahun lalu itu.

Mujim -sapaan akrabnya- menyampaikan, sebagian besar karya yang ada di sana itu adalah lukisan yang baru-baru mereka buat. Di mana pada sepekan lalu, penyelenggaraanya dilakukan di salah satu objek cagar budaya Candi Jabung, Paiton.

“Rindu berkarya bersama, jadi hasil dari karya sebelumnya kami juga pajang di sini. Saat melukis bersama beberapa waktu lalu protokol kesehatan juga tak dilupakan,” ujarnya.

Semangat berbagi dalam bingkai karya seni itu diharapkan memantik para pengunjung dapat juga merasakan nikmatnya berbagi. Apalagi berbagi pada saat masa sulit seperti pada Pandemi Covid-19 ini.

“Jelasnya kami memikirkan mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan. Semoga saja para pengunjung yang datang dapat sejalan niat dan pikirannya untuk saling berbagi,” ujarnya. (Sumber Radar Bromo)

Sidebar Menu