Prof. Irwan Abdullah: Menulis adalah Tradisi, Syaratnya adalah Standar dan Daya Juang

“Menulis harus menjadi tradisi dan warisan di lingkungan kita. Kita mungkin punya waktu yang jelas untuk mengajar, tapi tidak semuanya memiliki waktu untuk menulis. Karena itu menulis itu harus ditradisikan, dibangun; kita perlu bagun untuk menulis, untuk menyelesaikan tulisan kita kadang harus menguragi waktu tidur. Jika sudah menjadi tradisi, maka tidak ada alasan untuk tidak menulis,” ungkap Prof Iwan saat memulai kegiatan Tips dan Trik Penulisan Artikel Internasional.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Lembaga Penerbitan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Universitas Nurul Jadid sebagai rangkaian dari program Research Week. Hadir sebagai narsumber adalah Prof. Dr. Irwan Abdullah, M.A. (Guru Besar Antropologi UGM Yogyakarta dan Pendiri IA Scholar Foundation) pada tanggal 17 November 2021 melalui Zoom meeting.

Beliau mengajak berhitung, “Jika kita menulis setiap pagi hari satu paragraf, maka dalam satu bulan akan menjadi 30 paragraf dan itu akan menjadi 1 artikel, maka pada setiap bulan akan lahir satu artikel dan dalam waktu satu tahun kita akan melahirkan 12 artikel,” ungkap Prof Iwan.

Dalam konteks penulisan artikel jurnal internasional, salah satu kunci utama adalah menemukan kebaruan (novelty). Salah satu caranya adalah menjelaskan kesenjangan dalam semesta penelitian (research gap) tentang topik kita. Kesenjangan tersebut bisa berupa kesenjangan dalam literature, kesenjangan konseptual, kesenjangan dalam waktu, kesenjangan kelompok populasi, dan kesenjangan metodologis. Dengan menemukan salah satu atau beberapa kesenjangan ini, artikel jurnal kita sangat mungkin memiliki kebaruan tertentu yang menarik bagi redaktur jurnal.

Selain menjelaskan kesenjangan penelitian, Prof. Irwan Abdullah juga menguraikan syarat-syarat menghadapi Scopus. “Ada tiga syarat utama. Mengenali belantara jurnal. Mencapai standar mutu jurnal. Memiliki tradisi dan komitmen,” tutur Prof. Irwan. Yang paling penting dari ketiganya antara lain adalah memiliki tradisi, menyediakan diri untuk menulis, membangun tradisi, dan memelihara daya juang untuk mencapai tujuan tersebut.

Sementara itu, Kepala LP3M UNUJA, Achmad Fawaid, berharap kegiatan ini mampu memberikan dampak terhadap iklim akademik di Universitas Nurul Jadid. “Dengan kegiatan ini, dosen diharapkan sadar tentang standar-standar yang harus dipenuhi dan syarat-syarat yang patut dimiliki untuk mampu menulis di jurnal internasional bereputasi,” kata Fawaid.

Di UNUJA sendiri, dari 2018 sampai 2021, terdapat kurang lebih 32 artikel yang terbit di publikasi Scopus. Sebanyak 7 di antaranya adalah artikel di jurnal internasional, dan sisanya terbit di prosiding internasional. Diharapkan, kegiatan ini dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas artikel dosen atau civitas akademik yang terbit di jurnal internasional. [TIM]

Sidebar Menu